Senin, 06 Februari 2012

Tiga Produk Bisnis Internet Terlaris di Jepang

Ekspansi para pedagang di Jepang semakin meningkat, terutama setelah terjadi bencana di awal tahun 2011.

Bencana tersebut memang menghancurkan infrastruktur mereka, namun ternyata justru menyulut semangat untuk kembali bangkit dan berbisnis lebih luas lagi.

Salah satu cara berdagang yang paling digemari saat ini adalah melalui internet alias online, apakah itu merancang situs sendiri atau bekerja sama dengan situs ecommerce alias jual beli online.

Dari sekian banyak produk yang ditawarkan di internet, ada tiga produk yang paling digandrungi oleh masyarakat Jepang. Apakah anda bisa menebak apa saja produk-produk tersebut?

1.Pakaian Pria (muda-dewasa muda) bernama Silver Bullet

Perusahaan yang didirikan oleh anak muda asal Tokyo, Koh Takagi, ini menjual aneka pakaian trendi untuk remaja Jepang masa kini.

Target pasarnya, anak muda sekitar 18-25 tahun yang sudah pasti punya akses mudah ke internet. Sebanyak 90% omzetnya didapat melalui online, meskipun ia punya banyak toko yang tersebar di seluruh Jepang.

"Kalau menjual lewat internet, pembeli sudah tau ketersediaan barang. Tidak seperti melihat iklan di majalah lalu anda pergi ke toko, belum tentu barang yang ada inginkan tersedia," kata Koh di Tokyo, Jepang, Minggu (5/2/2012).

Ia mengatakan, tidak semua remaja Jepang juga punya banyak waktu berbelanja, sehingga membutuhkan cara yang cepat serta pilihan yang banyak dalam waktu singkat.

"Kalau lewat online kan ketahuan, masih ada atau tidaknya barang dengan cepat dengan hanya belanja dari rumah," katanya.

Produk yang dijualnya mulai dari baju, celana, jaket sampai sepatu. Harganya bervariasi mulai dari 5.000 yen sampai 25.000 yen (1 yen = Rp 100).

Selain situs sendiri, Silver Bullet juga tergabung di situs jual beli (ecommerce) nomor satu di Jepang, Rakuten Ichiba. Koh memperluas pangsa pasar di situs jual beli tersebut.

Silver Bullet menjadi toko fesyen paling populer di anak muda Jepang. Bahkan, ia pernah ikut Japan EXPO yang digelar di Prancis belum lama ini.

2.Bir

Ya, orang Jepang termasuk masyarakat dengan konsumsi bir cukup tinggi. Jepang punya minuman keras khas bernama sake, tapi tetap konsumsi bir nya cukup tinggi.

Naoyuki Hide merupakan pembuat bir lokal yang memulai usahanya pada tahun 1997 dengan merek Yonayona no Sato. Waktu itu, internet masih minim, ia menjual produknya penuh percaya diri karena bir yang diproduksinya merupakan campuran baru.

"Bir kami cukup unik, sehingga dalam 3 tahun pertama penjualannya naik sangat tinggi. Saat itu belum banyak kompetitor juga," kata dia.

Sayangnya, dalam lima tahun berikutnya, penjualan mereka turun terus dari tahun ke tahun. Saat itu Naoyuki terpikir untuk melebarkan usahanya melalui internet.

Karena minim pengalaman membuat situs pribadi, ia akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Rakuten.

"Mereka membantu tingkatkan penjualan saya dalam empat tahun terakhir. Target saya sekarang bisa berjualan di tiap acara baseball seluruh Jepang," imbuhnya.

Sekarang, setelah punya banyak cabang di seluruh Jepang, ia tidak terlalu banyak mengandalkan penjualan online meski 20% diantara omzetnya dari internet.

Namun, ia sangat berterima kasih kepada dunia digital karena lewat situlah namanya mulai dikenal oleh seluruh Jepang. Ia juga sangat tertarik untuk melebarkan usahanya ke pasar ekspor.

3.Aksesoris Wanita

Mulai dari penghias kuku, kalung, gelang dan lain-lain ternyata paling banyak diincar kaum hawa negeri sakura.

Wanita bernama Megumi Matsuo memulai usaha aksesoris Nail Yasan di tahun 1998 sendirian. Waktu itu, ia sadar internet akan berkembang pesat sehingga memutuskan untuk ikut gabung di situs jual beli.

"Waktu itu Rakuten belum lama dibentuk, saya ingin daftar tapi ditolak, karena saya bukan sebuah perusahaan, tapi hanya saya sendiri," ujar Megumi.

Akhirnya, ia memutuskan untuk membuka situs sendiri. Meski awalnya cukup merepotkan, namun uang yang dihasilkan cukup banyak, sekitra 200 ribu yen per tahun.

"Saya kaget dengan jualan online omzetnya cukup tinggi. Akhirnya saya serius bergabung dengan Rakuten untuk meningkatkan pendapatan," imbuhnya.

Akhirnya, pada akhir 2001 ia bisa bergabung dengan situs nomor satu di Jepang tersebut. Setelah itu ia mulai punya karyawan dan menerima pesanan dari seluruh Jepang.

Salah satu basis kuat penopang bisnisnya adalah konsumen yang setia. Target konsumennya adalah para wanita remaja Jepang yang trendi. Ia memperlakukan para konsumen ini seperti temannya sendiri sehingga sangat setia sampai saat ini.

(rl/RL/VBN-dtc)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar